Dikirim oleh :
uCh4n | Blog dikirim pada : 02-04-2010

Ijazah Berstempel Merah
Oleh: Syahrial Chan
Waktu aku masuk sekolah, kau minta uang pembangunan sekolah..
Waktu aku sekolah, kau pungut biaya buku yang tak berguna.
Waktu aku menunggak uang sekolah, harus panggil orang tua.
Kini kami dibebaskan uang sekolah dan kau tak lagi memungut biaya.
Dulu kau beridiri tegak didepan kelas, menjadikan sekolahku sekolah pavorit.
Kini kau sakit terduduk lesu, kau disuntik diobati, tetap saja tak punya spirit.
Kini sekolahku tak lagi diminati orangtua murid.
Akhirnya aku tak lulus jadi percuma.
Kau merasa hibah, kau suguhi aku paket coba-coba.
Aku mendaftar kuliah, aku tak diterima.
Aku melamar pekerjaan, katanya sudah tua.
Aku berkarya, kau minta cuma-cuma,demi pendidikan kemajuan bangsa.
Itulah ijazahku, ijazah berstempel merah...
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Depok 27 Maret 2010
Keterangan baris puisi
Ijazah Berstempel Merah » ijazah yang dicap untuk siswa yang tidak lulus UN
Baris-1:
Pada umumnya masuk sekolah dan PT apapun kita dipungut biaya dengan bermacam bentuk pungutan. Sehingga hanya orang-orang berduit saja yang bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan yang dikomerisialisasikan. Mudah-mudahan dengan dibatalkannya UU BHP (sudah dibatalkan oleh MK tanggal 31 Maret 2010), anak-anak bisa mendapatkan pendidikan demi kemajuan bangsa. Karena bangsa yang maju adalah bangsa yang berpendidikan. Sebodoh-bodohnya orang berpendidikan pasti lebih baik dari pada anak yang tidak berpendidikan.
Baris-2:
Siwa diharuskan membeli buku paket kepada guru bidang studi masing-masing. Buku paket suatu sekolah belum tentu sama dengan sekolah lain. Masing-masing sekolah berbeda materi pelajarannya, sedangkan soal UN semua sekolah adalah sama. Terang saja banyak siswa yang tidak lulus, bahkan jangan heran kalau ada sekolah yang tidak lulus UN 100% (Detik News).
Baris-3:
Tidak semua siswa yang bersekolah adalah orang mampu, walaupun bersekolah di sekolah favorit. Bahkan ada siswa yang tidak punya orang tua. Tetapi ada sekolah yang tidak mau tahu dengan keadaan seperti ini.
Baris-4:
Khsus untuk sekolah SMP yang sudah dibebaskan dari biaya sekolah. Guru-guru tidak lagi diperbolehkan menjual buku-buku kepada murid sehingga mereka tidak lagi bisa mencari objekan di sekolah.
Baris-5:
Waktu siswa khusus SMP ditarik biaya sekolah dan biaya buku, guru-guru bersemangat mengajar dan orang-orang berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.
Baris-6:
Sejak sekolah tidak memungut biaya sekolah dan guru-guru tidak lagi bisa dangang buku di sekolah, membuat etos kerja guru menurun untuk mengajar dan konsekuensinya mutuh pendidikan menurun. Padahal tunjangan guru sudah bagus dan gaji sudah dinaikan masih saja ingin mencari uang tambahan dengan berbagai macam bentuk pungutan kepada anak murid.
Baris-7:
Sekolah pavorit menjadi sekolah tidak berkualitas dan orang tua murid tidak lagi tertarik untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.
Baris-8:
Sebelum UN dilaksanakan, orang tua murid mati ketakutan anaknya tidak lulus dan anak murid menjadi stress menghadapi UN. Tidak kalah stressnya guru-guru, terlebih lagi kepala sekolah, karena harus mempertaruhkan nama baik sekolah. Mulai dari orang tua murid, anak murid, guru hingga kepala sekolah harus bekerja keras, bagaimana agar anak murid bisa lulus UN. Logis memang jika ada kepala sekolah mencari jawaban UN untuk diberikan kepada peserta UN karena jika tidak lulus sekolah mereka akan dicap pendidikannya tidak bermutu. Akhirnya anak murid dan sekolah (guru dan kepala sekolah) mengatur strategi (tindakan melanggar peraturan UN) agar UN bisa berhasil. Artinya, dengan adanya UN, secara tidak langsung pemerintah telah mengajarkan kepada sekolah-sekolah di tanah air untuk belaku curang melaksanakan UN. Jika mental anak murid tidak siap untuk melaksanakan kecurangan tersebut di depan pengawas, maka gagallah UN tersebut. Inilah penyebab pertama kegagalan UN. Penyebab kedua kegagalan UN adalah karena materi ujian tidak sama dengan materi pelajaran berbeda-beda di masing-masing sekolah. Penyebabkan yang kedua adalah sebagai penyebab sekolah melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN. Jadi, kegagal UN bukanlah soalnya UN-nya yang sulit tetapi karena pemerintah tidak mempunyai standard materi pelajaran secara nasional.
Baris-9:
Pemerintah seolah-olah membantu siswa yang tidak lulus UN dengan menyelenggarakan paket C. Padahal secara implisit pemerintah telah menjatuhkan nilai pendidikan. Seharusnya pemerintah harus bijaksana dengan memberikan kesempatan siswa yang tidak lulus untuk mengulang agar bisa lulus secara normal.
Baris-10:
Beberapa perguruan tinggi sudah mencap lulusan Paket C adalah siswa yang tidak lulus UN dan tidak bisa diterima di perguruan tinggi tersebut. Siswa tersebut dicap sebagai siswa bodoh, padahal belum tentu demikian. Untuk mengatasi pesoalan ini, Depdiknas telah mengedarkan surat ke seluruh perguruan tinggi untuk menerima mahasiswa baru yang mendaftar dengan menggunakan ijazah paket C. Sebaiknya Depdiknas bukan membuat surat edaran tetapi memberi kesempatan untuk mengulang kepada siswa yang tidak lulus. Tetapi kenyataanya memang pahit, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan secara normal di negeri ini rupanya hanya satu kali saja seumur hidup.
Baris-11:
Melanjutkan kuliah tidak bisa, melamar pekerjaan hanya berbekal ijazah Paket C, sudah pasti yang diprioritaskan adalah yang berijazah lulusan sekolah normal. Begitu terus menerus sampai tua jadi pengangguran.
Baris-12:
Ternyata siswa yang lulus Paket C tersebut adalah siswa jenius. Dia bisa berkarya seperti teman-temannya yang anak kuliahan. Sayangnya karyanya tidak dihargai oleh orang-orang yang membutuhkan—mereka hanya mau menggunakan secara gratis. Kita tidak perlu heran dan berkecil hati memang seperti itulah sifat bangsa kita (orang berduit) mereka lebih percaya produk dari luar dengan harga selangit yang belum tentu berguna dari pada membeli karya bangsanya sendiri. Alasan klasik, kenapa harus menggunakan karya putra bangsanya sendiri secara gratis? Alasannya adalah demi pendidikan dan kemajuan bangsa, jadi yang berkarya tidak usah dibayar karena harus perpartipasi memajukan bangsa. Padahal yang akan menggunakan karya tersebut adalah yayasan—atau—badan usaha (orang-orang berduit) yang menghasilkan profit.
Baris-13:
Lulusan sekolah mendapatkan ijzah lulusan paket C, ijzah yang sudah dicap sebagai siswa yang tidak lulus UN. Siapa yang menjatuhkan nilai pendidikan bangsa ini???
Adik-adik, ada tidak yang ingin mendapatkan Ijazah Paket C? Biar tampil beda gitu! Ayo acungkan tangan!
Sebagai generasi muda, apa pendapat kamu tentang puisi Ijazah Berstempel Merah? Kamu bebas memerikan pendapat dari isi hatimu dengan jujur, bisa berupa masukan (termasuk koreksi bahasa Indonesia) , pandangan, kritik, saran, spirit dan lain sebagainya.
Semoga seluruh generasi mudah pendapatkan pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 31.
Maju Pendidikan Indoneisa, Sejahtera Para Pendidiknya dan Sukses Anak Didiknya..!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Testimonial
Teman-teman, sudi kiranya untuk dapat memberikan mendapat, komentar dan uraian singkat, kritikan/koreksi, saran, nasehat atau spirit atas puisi ini.
Atas partisipasinya, aku ucapkan terima kasih. Semoga Tuhan selalu melindungimu teman. Amin!
Kasi komen juga ya puisi-pusi di bawah ini:
Panca Sela » Lima Cela penyebab perpecahan bangsa Indonesia
Sebutir Mutiara » Jeritan hati untuk menggapai sebutir mutiara!
Apa kata dunia? » Tradisi Indonesia
Aku Tak Ingin Hidup Seperti Dirimu
Kutunggu Surat Darimu
Mati Sajalah Kau